Jatuh Cinta Diam-Diam 2

Jatuh Cinta Diam-Diam 2

19 September 2020 Cerita 0

Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang dilayangkan Reni kepada Bayu tidak bisa dijawabnya. Antara benar dan tidak pernyataan itu. Memang belum merupakan sebuah kepastian untuk menjawabnya. Tapi, kalau Bayu menjawabnya Reni akan tau kalo perumpamaan itu adalah sebenarnya untuk Bayu. Jadi, tidak membaca pesan adalah solusinya.

Bayu memang masih dihadapkan dalam sebuah kebimbangan. Antara ingin melanjutkan usahanya atau memang sudah cukup berhenti saja karena ada sebuah ketidakjelasan.

Dia sudah berusaha untuk mencoba mendekati Nisya, teman seangkatannya yang beda fakultas. Tetapi, hasil diawal agak mengecewakan. Gagal memang usahanya untuk mencoba mendekat. Beda “kasta” pergaulan yang menjadi salah satu penghalangnya.

Bayu yang hanyalah mahasiswa teknologi informasi dengan pergaulan yang seadanya, tapi memang solidaritas yang tinggi. Sedangkan Nisya, seorang mahasiswa manajemen, dengan pergaulan lingkungan mahasiswa yang cukup berkelas. Sebenarnya pergaulan yang seperti itu tidak terjadi disemua jurusan. Hanya beberapa jurusan yang telah didoktrin seperti itu. Iya, pergaulan di salah satu universitas di Jogja beragam. Terlebih lagi, di kampus Bayu kuliah, kampus yang berada di sebelah barat dan timur Jalan Kaliurang Jogja.

Bayu beberapa kali merasa minder kalo dia ngrasa gak pantes kalo sama Nisya. Berbagai pertimbangan ia lakukan, salah satunya adalah circle yang dimiliki oleh Nisya. Tapi, Bayu selalu saja mencoba dan berusaha. Apapun itu hasilnya. Buktinya, dia pernah beberapa kali ngajak Nisya untuk keluar buat sekadar makan bareng atau cuma pergi ke alun-alun.

Tapi, sebelum Bayu bisa keluar bareng sama Nisya, ada beberapa halangan di depannya. Nisya memang sedang diisukan dekat sama temen sejurusannya. Hati terdalam Bayu mengatakan “Kayaknya dia lebih cocok daripada aku. Kita sudah beda kasta. Beda pergaulan. Beda keyakinan juga mungkin. Dia yakin, aku enggak ☹”

Tapi, kedekatan Nisya dengan temen sejurusannya itu memang agak samar-samar. Dibilang deket ya tapi gak keliatan kek deket gitu. Dibilang gak deket, tapi ya katanya sering keluar bareng kemana gitu.

Mulai muncul perasaan seperti itu dirasakan Bayu ketika berada dalam satu panitia kegiatan tingkat universitas. Kebetulan mereka berada dalam satu divisi, berawal dari yang tidak saling kenal, menjadi saling ngobrol bareng akhirnya. Tapi, itu terjadi ketika Nisya memang masih deket sama temen seangkatannya. Alhasil, Bayu tidak berani berbuat lebih dari itu. Itupun, temen sedivisinya yang ngasih tau kalo jangan berlebihan ngobrol sama Nisya, dia masih deket sama temen sejurusannya.

Tapi, ketika Bayu mengetahui kalo Nisya masih ada masalah dengan temen yang mendekatinya, dia langsung mencoba untuk masuk. Mencari kesempatan dalam kesempitan yang ada. Siapa tau, dia bisa memanfaatkan kesempatan yang ada itu.

Disitulah, hampir tiap hari dia ngobrol dengan Nisya. Dan itu terjadi ketika acara universitas itu sudah selesai. Disitulah, momen dimana Bayu pernah beberapa kali keluar bareng sama Nisya. Untungnya, tidak ada temennya yang mengetahuinya ketika dia pergi sama Nisya. Kalo ada yang tau, bakalan langsung menjadi trending di jurusan Bayu. Lambe-lambe turah mulai bertebaran.

Seperti yang dilakukan Bayu seminggu setelah acara pembubaran panitia kegiatan tingkat universitas itu. Dia mencoba buat ngajak Nisya buat keluar bareng. Karena memang Bayu sudah pusing dengan yang namanya tugas dan dia mencoba untuk refreshing sebentar.

“Nis, besok selow gak btw?”

“Kenapa bay?”

“Main yukk, ke Malioboro”

“Jam berapa kesana?”

“Setengah 8 aja gimana”

“Boleh-boleh, gassin sihh”

Sesederhana itu sebenarnya buat ngajak Nisya keluar bareng. Meskipun pergaulan di kampusnya yang cukup berkelas, tapi dia termasuk anak yang gampang buat diajak keluar. Easy going.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *